hai pemegang kunci,
ingatkah dulu?
ketika kau bilang kepadaku,
aku yang berada di balik pintu,
bahwa kau sudah memiliki kunci untuk membuka pintuku,
tapi kau bilang 'aku sedang menunggu waktu yang tepat',
karena kau masih ragu,
kau bilang 'bersabarlah',
tapi tahukah kau?
bahwa sebenarnya aku bukan orang yang penyabar,
aku tidak suka disuruh menunggu,
aku BENCI menunggu.
aku bilang,
'bagaimana kalau ternyata bukan kau yang akhirnya membuka pintuku?'
'bagaimana kalau orang lain?'
'bagaimana kalau aku salah, membukakan pintu bagi orang selain kau?'
lalu kau katakan kepadaku,
'aku yakin kau tidak akan salah orang'
'aku yakin kau tahu untuk siapa pintu itu dibukakan'
'aku harap kau bersabar untuk membukakan bagi orang yang tepat'
aku berkata lagi,
'aku mungkin bersabar,'
'tapi bagaimana kalau ia sudah terlalu lama hingga dimakan rayap?'
'rayap kan butuh makan'
kau diam sejenak, lalu berkata,
'mungkin pintu lain terbuat dari kayu,'
'tapi aku harap yang ini terbuat dari besi'
aku berdalih lagi,
'bagaimana kalau pintu itu dibakar oleh orang yang gemas melihatnya?'
'gemas karena sudah terlalu lama tidak dibuka'
'besi kan bisa meleleh'
kau dengan tenang, menjawab,
'aku akan melindungi pintu itu,'
'menjaganya agar tidak ada yang bisa membakarnya,'
'walaupun itu artinya aku lah yang harus terbakar'
aku hampir kehilangan akal,
'bagaimana kalau kau melihat pintu emas?'
'akankah kau berpaling?'
'semua orang tahu emas lebih baik daripada besi'
kau (lagi-lagi) menjawab dengan tenang,
'pintu emas pasti banyak yang berminat, bukankah begitu?
'pesimistis pasti bertindak'
'aku akan memilih pintu besi'
dan aku menyerah.
berusaha untuk sabar menunggu.
berusaha untuk percaya.
tapi,
aku bersyukur,
bersyukur karena aku menunggu.
ketika penantian itu berakhir,
ada perasaan yang benar-benar....
hahaha aku pun tidak dapat mendeskripsikannya.
seperti indah, lega, bahagia,
tapi lebih dari itu semua.
mungkinkah karena kau membukanya dengan sepenuh hati?
mungkinkah karena aku tahu aku telah membuka pintuku untuk orang yang tepat?
aku tidak tahu.
tapi,
wahai pemegang kunci,
aku berharap,
benar-benar berharap,
hanya kau orang yang pertama,
dan terakhir,
yang membuka pintuku,
lalu bersama-sama denganku,
menutupnya.
for the key holder,
SH.


Post a Comment